Sabtu , 17 November 2018
Home / Berita / “A Graveside Ritual”, Kartini Jilid Dua, Hadir di Perpustakaan MAN 2 Wates
“A Graveside Ritual”, Kartini Jilid Dua, Hadir di Perpustakaan MAN 2 Wates

“A Graveside Ritual”, Kartini Jilid Dua, Hadir di Perpustakaan MAN 2 Wates

(KULON PROGO). MAN 2 WATES Luar Biasa, MAN 2 Wates, perpustakaan MAN 2 Wates giatkan siswa untuk melek literasi. Siang, selepas salat dhuhur (29/9), klub baca Perpus kedatangan penulis, Akhiriyati Sundari, alumni MAN 2 Wates, dan membedah salah satu buku antologi cerpen yang telah dialihbahasakan dalam Bahasa Inggris, berjudul A Graveside Ritual .

Ndari, begitu panggilan akrab penulis yang diundang dalam bedah buku kali ini, berkesempatan mengenang kembali bagaimana perjalanannya saat di madrasah, memulai debutnya dengan aktif di OSIS dalam divisi mading, duta perpustakaan, dan mulai membuat cerpen di kelas tiga. “Mulai tahun 2001 saya baru menekui sastra dengan otodidak, meski kuliah di jurusan PAI UIN SUKA. Mulai dari melahap cerpen di koran minggu.” proses untuk menulis itu tak begitu saja terbentuk. Ia juga kemudian aktif di komunitas sastra Lumbung Aksara, Kulonprogo. “Seperti hari ini, komunitas semacam ini penting untuk perkembangan diri.”

Tak heran, penulis alumni MAN 2 Wates tersebut tulisannya telah dimuat di media nasional, seperti majalah Basis, Jurnal Perempuan, dan karya lainnya. “Berkaca dari Pram, manusia akan di lupakan sejarah, kecuali bagi mereka yang menulis. Karena tulisan itu akan tetap ada dan dibaca.” Tegas mahasiswa S2 Fakultas Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) Jurusan Islam dan Kajian Gender di UIN Sunan Kalijaga. tersebut. “Sastra itu kepekaan rasa. Ilmu apapun yang dikuasai, tidak akan tercerabut dari diri kita, menjadikan kita tetap humanis.”

Anak-anak klub baca perpustakaan MAN 2 Wates terpesona dengan sharing yang memotivasi mereka untuk terus berproses. Dibedah dua judul cerpen andalannya, yaitu ‘Nyekar’ dan ‘Bianglala’ yang menggambarkan perjalanan hidup penulis. ‘A graveside Ritual’ disaring dari ratusan cerpen, dua belas cerpen terpilih dialihbahasakan ke bahasa Inggris, ditujukan untuk pembaca di luar negeri . “Itu sebenarnya berangkat dari tradisi ‘nyekar’ atau ‘nyadran’ atau ‘ruwahan’ di kampung saya, Ngestiharjo. “Sebenarnya itu merupakan bungkus saja, senyatanya cerpen itu menggambarkan kelamnya keluarga korban tragedi 1965. Seperti kegelisahan Kartini, seorang pengiman Islam sejati.

Cerpen ‘Bianglala’ berangkat dari dunia pedagogie, bercerita tentang seorang tokoh perempuan dalam dunia kesufian (tarekat). “Saya sebenarnya berangkat dari keinginan mengangkat sosok-sosok sufi perempuan tanah jawa yang sekarang tak pernah kita tahu.”

Sesi tanya jawab disambut antusias dengan rentetan pertanyaan seputar inspirasi kepenulisan Sundari. Tegar, siswa kelas XII IPS1 menanyakan relevansi sejarah dengan fiksi. “Ada. Fiksi itu meruangkan sejarah, dan terpenting penulis memberikan perspektif tertentu.” Begitu jawab perempuan kelahiran Ngestiharjo yang juga guru Sosiologi di MA Darussalam Yogyakarta. “Yang mutlak bagi para penulis adalah memperbanyak bahan bacaan. Jadi tidak ada alasan kehabisan ide menulis. Sumbernya ya dari seberapa banyak hal yang kit abaca. Membaca itu menabung mufradat untuk kepentingan menulis. Ibaratnya, seperti mesin ATM yang mengeluarkan uang.” (siw/ast)

         

Ini juga menarik !

PPDB MAN 2 Kulon Progo Tahun Pelajaran 2018/2019

Kulon Progo – Tahun ini, MAN 2 Kulon Progo menerima siswa baru dengan sistem boarding …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *